mengungkap rasa dan fikir serta dengungan hati...... (jika ingin mengirimkan cerita ini atau memuatnya ke media lain, hubungi radoek@telkom.net)

Wednesday, October 26, 2005

DUNIA INI KENAPA?

DUNIA INI KENAPA?

 

Dunia sepertinya hancur bertubi-tubi. Tsunami, bom, teroris, kelaparan, gempa, banjir, korupsi, gelandangan, pemerkosaan, BBM naik, demonstrasi. Ibu-ibu menjerit, seorang mba yang naik patas AC mengeluh, supir angkot bingung, seorang ayah bersimbah keringat karena memilih berjalan kaki untuk menghemat ongkos transport. Setiap orang mencaci, mencari kambing hitam. Sayangnya tak ada lagi kambing yang mau berwarna hitam sekarang. Dan cacian itu menggema, memantul ke segala arah dan dan menjadikan setiap orang menjadi sasaran. Do we live in the wrong world?

 

Ada suatu cerita yang menurut saya bagus mengenai seorang anak laki-laki kecil yang sedang berjalan menyusuri tepi sungai. Dia melihat seekor buaya yang terperangkap dalam suatu jaring. Buaya itu berkata,"Maukah kamu mengasihani aku dan melepaskan aku? Penampilanku memang jelek, tetapi ini bukan kesalahanku, kamu tahu bahwa aku diciptakan seperti ini. Tetapi bagaimanapun penampilan luarku, aku mempunyai kelembutan hati seorang ibu. Pagi ini aku sedang mencari makan untuk anak-anakku dan terjebak dalam perangkap ini!"

 

Kemudian anak itu menjawab "Ah, jika aku melepaskanmu dari perangkap ini, kamu akan menangkapku dan membunuhku." Buaya itu bertanya,"Apakah kamu berpikir bahwa aku akan berbuat seperti itu kepada orang yang sudah menolong dan membebaskanku?" Anak itu terbujuk untuk melepaskan buaya itu dari jaring dan buaya itu menerkamnya. Ketika anak itu terjepit diantara rahang buaya, dia berkata,"Jadi inikah yang kudapat dari perbuatan baikku?" Dan buaya itu menjawab,"Sudahlah, jangan dipikirkan terlalu serius, anakku, ini adalah aturan dunia, hukum kehidupan." Anak laki-laki itu menyangkalnya, sehingga buaya itu berkata ,"Apakah kamu ingin menanyakannya kepada pihak lain kalau-kalau yang kukatakan itu salah?"

 

Anak itu melihat seekor burung yang sedang hinggap di dahan dan berkata,"Hai burung, apakah yang dikatan buaya itu memang benar?" Burung itu menjawab,"Buaya itu benar. Lihatlah aku. Beberapa waktu yang lalu aku pulang dengan membawa makanan untuk anak-anakku yang masih kecil. Bayangkan betapa takutnya aku ketika aku melihat seekor ular sedang merayap naik pohon mendekati sarangku. Aku sama sekali tidak berdaya . Ular itu menelan anak-anakku yang masih kecil itu, satu demi satu. Aku terus-menerus menjerit dan berteriak, tetapi tidak ada gunanya. Buaya itu memang benar, itulah hukum kehidupan, itulah aturan dunia." "Benar kan?," kata buaya itu.

 

Tetapi anak itu berkata, "Berilah aku kesempatan untuk bertanya pada pihak lain lagi!" Kemudian buaya itu berkata,"Baik, silahkan." Ada seekor keledai tua yang sedang berjalan di tepai sungai "Hai, keledai," kata anak itu ,"Buaya ini mengatakan demikian. Apakah yang dikatannya itu benar?" Keledai itu berkata,"Buaya itu benar sekali. Lihatlah aku, aku sudah bekerja keras untuk majikanku sepanjang hidupku sementara dia tidak pernah memberiku cukup makanan. Sekarang aku sudah tua dan tidak berguna, dia membiarkanku begitu saja. Sekarang aku hanya berjalan berkeliling di hutan menunggu binantang buas menerkam diriku dan mengakhiri hidupku. Buaya itu benar, ini adalah hukum kehidupan, aturan dunia." "Nah, benar kan?" kata si buaya. "Sudahlah!" Anak itu berkata ,"Berilah aku kesempatan untuk bertanya kepada pada pihak lain. Ingatlah kebaikan yang sudah aku berikan kepadamu." Buaya itu berkata,"Baiklah, ini kesempatan terakhir."

 

Anak itu melihat seekor kelinci lewat, dan dia berkata,"Hai kelinci, apakah yang dikatakan buaya ini benar?" Kelinci itu duduk dengan tenang dan berkata kepada buaya,"Apakah kamu berkata begitu kepada anak itu?" Buaya itu menjawab,"Ya, memang demikian." Tunggu sebentar kata kelinci,"Kita harus mendiskusikannya hal ini." "Ya," kata buaya. Tetapi kelinci itu berkata,"Bagaimana kita dapat mendiskusikan hal ini jika anak itu ada dalam mulutmu? Lepaskan dia terlebih dahulu; dia juga harus turut ambil bagian dalam diskusi ini. Buaya itu berkata "Kamu cerdik sekali,pada saat aku melepaskan anak ini dia akan lari." Kelinci itu berkata,"Aku pikir kamu lebih pandai dalam hal ini. Bila dia berusaha untuk melarikan diri, kamu hanya perlu mengayunkan ekormu sekali saja dan dia akan mati." "Cukup adil," kata si buaya. Dan dia melepaskan anak itu. Pada saat anak itu terlepas dari mulut buaya, kelinci itu berteriak, "Larii!" Anak itu lari dan menghindar dari sang buaya.

 

Kemudian kelinci itu berkata kepada anak itu. "Kamu suka makan daging buaya? Buaya itu belum lepas sepenuhnya dari jaring itu, sebagaimana tubuhnya masih ada di dalam jaring . Mengapa kamu tidak pergi ke desa dan mengajak orang-orang desa ke sini dan sesudah itu berpesta?" Anak itu melakukan apa yang dikatakan kelinci. Dia pergi ke desa dan mengajak orang-orang desa ketempat buaya itu. Mereka datang dengan kapak, kayu pemukul, dan tombak dan membunuh buaya itu. Pada waktu kembali anak itu kembali bersama anjingnya. Ketika anjing itu melihat kelinci tadi, dia mengejar kelinci itu, menangkapnya dan menggigitnya sampai mati. Anak itu terlambat datang ke tempat itu, dan dia melihat kelinci itu mati, dia berkata "Buaya itu benar, ini adalah aturan dunia, ini adalah aturan kehidupan."


Tidak ada penjelasan absolut yang dapat kita berikan untuk menjelaskan semua penderitaan, kemiskinan, pembunuhan, ketidakadilan, kejahatan, penganiayaan, penghancuran, kelaparan, dan kesedihan yang terjadi di dunia ini !!!

Kita tidak dapat menjelaskan semua itu. Kita bisa saja mencoba membuat rumusan-rumusan, menelaah, kenapa ini terjadi, apa yang bisa menyebabkan sesuatu terjadi, dengan penjelasan agama, merujuk kepada Al Quran dan Hadits, tetapi kita tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan semua itu.

 

Karena hidup adalah misteri, yang pengetahuan tentang masa depan dan hubungan sebab akibat yang sejati hanyalah Allah yang tahu. Kita mengenalnya sebagai takdir. Kita tahu itu takdir setelah sesuatu hal terjadi, tapi tetaplah kenapa itu harus terjadi tetaplah misteri. Sebuah pemikiran rasional tidak akan pernah dapat menemukan arti yang hakiki. Jadi dunia ini kenapa? Apa masalahnya?

 

Bukan itu pertanyaannya. Kitalah yang harus "bangun", lalu setelah itu tiba-tiba kita akan menyadari kenyataan bahwa hidup ternyata tidak bermasalah, MASALAHNYA ADA DI DALAM DIRI KITA. KITA SENDIRILAH MASALAHNYA.....DUNIA INI TIDAK APA-APA!

HATI-HATI, BISA MEMBACA BELUM TENTU BISA MEMAHAMI.

Diambil dari sebuah situs yang sekarang sudah tiada, tahun 2000, ditulis oleh Eternity, dan diberi revisi.

 

menjelang tarawih, 26 Oktober 2005

by [:radoek:]

http://www.radoek.blogspot.com

Friday, April 29, 2005

"KASIH BERSEMI LAGI"

Arni duduk di depan meja komputernya lalu membuka email. Dilihatnya di inbox sebuah nama yang ditunggu-tunggu olehnya.

From: Wulan S.
To:
arni@aaa.com
Sent: Wednesday, April 13, 2005 12:29 AM
Subject: Tabahlah sahabatku

Assalamualaykum warrahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah dan shalawat untuk junjungan kita Rasulullah saw.

Kabarku baik, Ibrahim sudah mulai belajar jalan. Lucu deh...jalannya sempoyongan. Alhamdulillah kami bahagia di sini.

Arni sahabatku, dari jauh aku tetap berdo'a untuk kamu. Sayang aku tidak bisa mendampingi kamu di masa-masa sulit ini. Jarak tidak jadi masalah kan. Yang penting sejak awal kuliah dulu kamu tetap sahabatku. Insya Allah hingga hari akhir nanti....amin......

Aku enggak bisa ngomong macem-macem untuk menghibur kamu. Tapi aku punya kaset nasyid Suara Hati, kelompok asal Malaysia, di Jkt juga sudah beredar albumnya. Aku dengerin ternyata kata-katanya sangat menyentuh, penuh dengan arti. Mungkin lirik ini bisa jadi pelipur sedihmu.

"Kasih Bersemi Lagi"
senilagu : Alifi Hj Alias
senikata : Suara Hati

Wahai sahabat, izinkan kuberbicara terus untukmu, buat kali kedua
Agar kau bisa terima hakikat cinta, yang berasaskan Cinta pada Illahi
Mengapa harus gelisah, bila dilanda masalah
Apa kau sudah lupa, betapa pahit derita, perjuangan Rasul dan Kekasih-Nya

Bila kau rasa derita, jangan kau lupa, derita itu mendidik nafsu dan jiwa
Bila kau rasa terkorban, pedih sengsara, yang terkorban itu mazmumah yang beraja
Hati yang bisa terseksa, akan menjadi teguh
Pahit di mata dunia, kerna manisnya syurga
Bila Allah yang membela, itulah penguat jiwa, hati tempat nilaian-Nya

Biar berguguran kasih dan sayang, kerana mengharap keredhaan Tuhan
Kuntuman cinta kan mekar mewangi, bila redha-Nya melimpahi bumi

Cinta kasih Allah itu penjamin segala, kebahagiaan dunia dan akhirat
Biar menderita, mendidik hati yang leka, kerana ada yang lebih utama
Moga pohon kasih bisa tumbuh mewangi disirami hujan keimanan
Dan disitulah kasih kan bersemi, kerana sering dibaja oleh penderitaan.

Aku sekadar mencari redhanya Tuhan
Harapnya dikau senantiasa bersama
Aku mengharap menagih cinta dari-Nya
Dari situlah kasih akan bersemi mekar mewangi

"Kerana-Nya Kita Bertemu"
senilagu : Suara Hati
seni kata : Alifi Hj Alias

Pertemuan antara dua insan, sering menumbuhkan kasih dan sayang
Ukhuwah antara kita, anugerah Yang Esa, menuju cinta yang abadi
Perncarian, erti kasih dan sayang, pastinya ada jiwa yang terkorban
Kerna dilanda dilema, di tengah persimpangan, Cintakan Allah atau manusia

Percintaan itu fitrah manusia, dipenuhi untuk mencari redho-Nya
Jika nafsu tak berpadu turuti hawa dan nafsu
Musnahlah bunga hiasan diri

Perpisahan ini, sekadar menguji kita, apakah kita tabah dengan ketentuan-Nya
Cinta hanya Yang Satu, pasti kita kan Bertemu
Kerana pertemuan dan perpisahan, milikn-Nya sentiasa

Percintaan itu fitrah manusia, dipenuhi untuk mencari redha Illahi
Jauhi cinta yang fana, bersalut kepuraan, Cinta Illahi itu yang abadi

Biar terpisah, jika itu kehendak-Nya
Mendidik nafsu, menundukkan mazmumah
Janganlah ada, walau secebis rasa, perasaaan ingin memiliki
Kerana itu hanyalah sifat-Nya, menjauh dari sifat kehambaan

Pertemuan dan perpisahan bukannya milik kita
Bertemu dan berpisah hanya kerana-Nya
Cinta Illahi itu yang abadi

Arni, sahabatku tersayang. Aku yakin kamu telah pahami ini semua. Aku pun yakin kamu pasti bisa melewati semua apa yang telah ditetapkan oleh Allah ini. Insya Allah aku akan ke Jakarta. Abang ada tugas dan aku ingin ikut untuk bertemu kamu. Alangkah senangnya kita bisa bertemu nanti. Jaga dirimu baik-baik. Salam untuk ayah dan ibumu.

Wassalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

Kuala Lumpur 130405
Peluk dan cium dari sahabatmu, Wulan.
Ah Wulan, kau memang sahabat terbaikku. Walaupun dia jauh di seberang sana, namun email ini dengan syair yang dikirimnya telah memupuk benih cinta itu lagi, cinta pada-Nya dan cinta karena-Nya.

sudut pinggir jakarta 190405

by [:radoek:]
- keep jihad inside heart -

Ketika Cinta Harus Usai
Episode 2

Suatu siang di hari Ahad, 10 tahun yang lalu, serombongan keluarga datang. Aku, ayah dan ibu kaget bukan kepalang. Kami tidak mengira akan ada yang datang membawa sepasukan orang dengan berderet mobil yang tiba-tiba sudah rapi parkir di depan rumah. Dua hari sebelumnya Yudhis memang meneleponku. Katanya ia akan ke rumahku Ahad ini. Tapi…..siapa yang mengira seperti ini. Kupikir ia sekedar silaturahmi atau ada kepentingan tertentu.

Dengan sedikit basa-basi, orang tua Yudhis menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamarku. Ditodong begini aku tak sanggup berkutik. Bunga-bunga di taman hatiku pun semerbak, setelah sekian lama dipendam kini bermekaran.

Ayah, ibu dan keluarga semua menyukai Yudhis. Tentu saja! Apa lagi yang kurang dari seorang Yudhis? Tampan, pandai, kaya, dan sholeh. Ayah Yudhis juga pengusaha sukses, walau kalibernya sedikit di bawah Om Rono.

Yudhis adalah sosok sempurna yang berwujud nyata. Membuat bangga bagi yang menggandengnya. Menyenangkan diajak ngobrol. Tidak memalukan bagi orangtua yang menjadikannya menantu. Dan pasti akan jadi suami yang bisa membimbingku, bisa mengerti aku, dan menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Siapalah yang sanggup menolak Yudhis?

Terlihat orangtuaku langsung jatuh hati pada Yudhis. Tapi ayah tetap menyerahkan keputusan padaku, karena akulah yang akan menjalani pernikahan. Aku diam ketika ditanya.

“Arni diam saja, berarti iya. Begitu kan Pak Margono?” ujar ayah Yudhis. Ayah mengangguk-angguk saja.

“Maaf,” aku berpaling ke arah Yudhis, “belum bisa langsung menjawab ya atau tidak. Beri aku kesempatan untuk mempertimbangkan dan sholat istikharah.”

“Oh monggo, silahkan saja. Kalau Arni butuh waktu, sampaikan saja kira-kira berapa lama akan mempertimbangkan lamaran ini dan kapan akan memberikan jawaban. Tapi jangan lama-lama. Kasian Yudhis lho…..!” ayah Yudhis menjawab sambil berseloroh.

Aku diam saja, bingung mau menjawab apa. Aku sendiri tidak tahu berapa lama yang kubutuhkan untuk mengambil keputusan terpenting dalam hidupku ini.

“Begini saja Mas, kita sama-sama berdoa saja semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT. Nanti kalau Arni sudah bisa memutuskan, saya yang akan menghubungi Mas Permadi. Bagaimana Mas?” kata ayah.

Ayah Yudhis melirik ke arah Yudhis. Yudhis mengangguk pelan. “Baiklah Pak Margono, kalau memang begitu. Yah……memang sebaiknya hal-hal seperti pernikahan ini tidak terburu-buru menjawabnya. Kami memang tidak mengharapkan ada jawaban saat ini juga. Paling tidak kita sudah silaturahmi, nambah saudara. Kami juga ingin mengenal Arni lebih dekat, juga Bapak dan Ibu sekeluarga. Karena…..terus terang kami juga kaget. Yudhis ini nggak ada angin nggak ada hujan, tahu-tahu minta saya dan mamanya untuk melamar. Padahal saya nggak pernah lihat Yudhis itu pacaran. Lha ini anak mau nikah sama siapa tho? Paling tidak kan calonnya mesti dikenalkan dulu, diajak main ke rumah. Bergaul sama keluarga besar. Dilihat bibit, bebet, bobot. Dan itu kan nggak langsung ujug-ujug begini, pakai waktu. Tapi Yudhis ngotot, katanya sistemnya bukan begitu, nggak ada pacaran-pacaran. Ya sudah akhirnya kami berembug dengan keluarga untuk datang hari ini. Kami ini hanya mendapatkan sedikit gambaran tentang Arni dan keluarga dari Yudhis. Jadi kami senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak sekeluaga. Kami minta maaf kalau kedatangan kami merepotkan.”

“Wah nggak kok Mas, sama sekali tidak merepotkan. Lha malah seneng kok dikunjungi sekeluarga besar begini.” Ayah tersenyum menanggapi penuturan ayah Yudhis yang panjang dan lebar. “Kami harap Yudhis bersedia menunggu jawaban dari Arni. Dan kami mohon apapun jawabannya nanti tidak membuat rasa tidak enak diantara kita semua. Mudah-mudahan masih bisa terus bersilaturahmi ya Mas…..!”

Malamnya kuceritakan kedatangan Yudhis sekeluarga kepada sahabatku yang juga satu kuliah dengan aku dan Yudhis dulu. Menurutnya, dari informasi yang bisa dipercaya, Yudhis memang sudah menyukaiku sejak kuliah. Oh….itukah sebabnya ia selalu memilihku menjadi sekretaris? Katanya, ketika kabar aku akan dilamar oleh Bram sampai ke telinganya, Yudhis kalang kabut. Dan akhirnya tanpa ba bi bu ia langsung datang melamar.

Akhirnya, Yudhis berhasil membawaku ke pelaminan. Betapa bangganya aku bersanding dengannya. Sang aktivis yang didamba banyak gadis. Dan kenyataannya akulah yang mendapatkannya, setelah menyingkirkan banyak saingan di hati Yudhis. Kudapati tatapan mata cemburu dan iri dari beberapa teman dan adik kelas yang kutahu pernah menyukai Yudhis, saat mereka datang ke resepsi pernikahan kami..

Hari-hari kami selanjutnya tentulah sangat indah. Bak lapis legit yang manisnya selalu ada di setiap gigitan. Tak ada duka. Tak ada lagi gelisah, gundah. Semua yang ada hanyalah bahagia dan bahagia. Lalu cinta kami berbuah. Lahir Ghazali, lalu Sabila. Semuanya menambah manisnya cinta kami.

Di awal pernikahan kami, aku dan Yudhis tetap aktif di dalam kegiatan dakwah dan sosial. Hampir setiap malam kami habiskan dengan tahajud berjamaah.

Kini air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku terisak tak bersuara. Memandangi wajah tampan yang tetap terlelap tenang.

Ramadhan yang lalu, tidak lagi kami lewati dengan penuh syahdu. Tak ada tarawih bersama. Tak ada tilawah bersama anak-anak. Jika dihitung, Yudhis hanya sempat 3 kali berbuka puasa di rumah. Sisa yang 27 hari entah berbuka puasa di mana. Ia selalu pulang malam, bahkan Subuh sekalian, setelah orang-orang selesai bersahur.

Beberapa tahun yang lalu, Yudhis sibuk, aku pun sibuk. Sebagai dokter spesialis jantung, Yudhis tergolong dokter muda yang cukup laris. Aku sibuk mengurus anak, rumah, dan praktek di puskesmas. Kesibukan kami membuat tak lagi aktif dan terikat dengan kegiatan dakwah yang sebelumnya kami geluti. Tali temali yang selama ini membentengi, satu persatu mulai putus.

Di awal karirnya, Yudhis sering bercerita ia beberapa kali terlewat waktu sholat kalau sedang ada operasi yang memakan waktu berjam-jam, dari satu waktu sholat ke waktu sholat yang lain. Aku selalu mengingatkan agar ia selalu sholat tepat waktu.

“Kalau lagi operasi mana bisa ditinggal,” kata Yudhis saat aku menegurnya. “Masa untuk sholat nggak bisa ditinggal sebentar saja?” kataku.

“Kamu kayak nggak ngerti saja. Kalau ditinggal bisa-bisa pasiennya meninggal. Nanti keluarga pasien menuntut dan menuduh malpraktek. Yah…..ini kan darurat, nggak apa-apa kan?” kata Yudhis enteng. Awalnya ia menganggap darurat, tapi kali kesekian saat tidak ada darurat, ia semakin menganggapnya enteng. Aku heran dengan sikapnya yang sangat mudah menggampangkan sholat.

Entah kapan dan bagaimana mulainya, Yudhis mulai sering pulang malam di luar jadual rumah sakit. Namun, aku percaya penuh padanya. Dan sebagai istri yang baik aku berusaha untuk tak banyak bertanya yang macam-macam. Yudhis mulai mempunyai komunitas tersendiri dalam lingkungannya. Komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas kami semasa kuliah dulu.

Ibadah kami sangat garing. Yudhis malas mengimamiku. Kalau ia capek, aku disuruh sholat sendirian. Apalagi Qiyamullail, sudah lama sekali kami tinggalkan. Capek! Begitu selalu alasannya. Hubungan di tempat tidur juga terkena imbasnya. Segala-galanya jadi kering, tanpa ruh. Menjalaninya bagai rutinitas dan kewajiban semata.

Buah cinta kami mulai besar dan mulai nakal. Aku sering kewalahan menghadapinya sendirian. Kalau aku bicara pada Yudhis, jawabnya, “Lho itu tanggung jawabmu sebagai ibu. Kamu bisa mendidik anak nggak sih? Tugasku itu cari uang!”

Ia pasti lupa isi khutbah nikah di pernikahan kami dulu. “Mendidik anak adalah tugas kedua orang tua, baik ibu maupun bapak. Ayah yang menjadi imam harus bisa menjadi nahkoda yang baik bagi biduk rumah tangganya. Dasar-dasar pendidikan itu harus berdasarkan arahan sang ayah.”

Kadangkala aku bisa sabar menghadapi Yudhis, tapi kadang pula kami bertengkar hebat. Yudhis semakin sering pulang diatas jam 1 pagi. Kalau kutelepon ke rumas sakit, dijawab kalau Yudhis sudah pulang dan tidak ada jadual yang mengharuskannya pulang pagi. Walau begitu aku tetap berkata pada diriku sendiri, everything runs smooth, everything is ok.

Jam berapa pun ia pulang, aku tetap berusaha melayaninya. Mulai dari membuatkannya teh, kopi atau susu panas. Atau menyiapkan air panas kalau ia ingin mandi. Secapek apapun aku, kuusahakan sekuat tenaga untuk menyambut kedatangannya dengan senyum.

Yudhislah yang biasa pulang dengan wajah kusut masai dan mata merah. Tanpa senyum. Hanya perintah yang keluar dari bibir merahnya. Kadang-kadang ia bersikap manis. Tapi itu hanya jika ia ingin melampiaskan hasratnya padaku. Aku bukanlah seorang istri yang mau dilaknat oleh malaikat hingga pagi. Tugas seorang istri berusaha kutunaikan dengan baik.

Malam-malam panjang, ketika menanti Yudhis pulang, sering kuisi dengan sholat tahajud. Aku memohon agak Allah membuka kembali hati Yudhis dan memberikan takdir yang baik bagi kami sekeluarga.

“Arni, aku ada berita nih! Tapi kamu jangan kaget ya. Kamu percaya kan sama aku? Ini tentang Yudhis,” suara Toni, sepupuku, terdengar di HPku. Aku mengangguk walau tahu ia tak akan melihat anggukanku
.
“Aku beberapa kali ini melihat suamimu. Pertama kali aku lihat dia lagi makan siang sama perempuan yang rambutnya dicat kemerahan di Chopstix Pondok Indah Mall. Nggak jauh kan dari tempat suamimu praktek.”

Toni melanjutkan, “Bukan cuma itu, aku pernah nguntit suamimu itu ke beberapa tempat. Afterhour, D’S Place, Barbados.”

“Oh ya?” kataku datar.
“Kamu kok nggak kaget?” tanya Toni.
“Kaget? Memang kenapa?” tanyaku bingung.
“Arni! Itu tuh tempat dugem, tau nggak?” jawab Toni.
“Du…gem???”
“Itu lho dunia gemerlap. Afterhour itu bar dan tempat billiard. Yang dua lagi yah semacam itu, sama saja. Aku lihat Yudhis sama cewek dengan mata kepala sendiri. Percaya deh, dia minum minuman, turun ke floor, peluk-pelukan sama cewek sok bule itu.” Nada suara Toni berapi-api penuh emosi.

Aku tak percaya, gumam bathinku. Tapi tak urung, tangan ini gemetar memegang HP. “Kamu salah orang mungkin Ton. Orang yang mirip Yudhis.”

“Salah orang bagaimana. Jelas banget gitu kok! Aku ngeliat dia sekitar jam 1 malem lewat. Dia sering nggak ada di rumah nggak kalau jam-jam segitu?”

Aku tersentak. Ya, Yudhis memang sering pulang pagi, dan ia nyata-nyata tidak sedang tugas di rumah sakit. Tapi…..main billiard, minum, berpelukan dengan perempuan…..? Rasanya sulit hati ini mempercayainya.

Hari ini, baru saja, semua pertanyaan yang bergumul di hatiku dan segala hal yeng menjadi rahasia selama ini terkuak lebar. Yudhis berkata jujur padaku bahwa ia mencintai perempuan lain, ingin bercerai dariku dan akan menikahi perempuan itu. DUARRRRRRR!!!!!! Bagai disambar geledek rasanya jantungku. Aku limbung.

“Baru kali ini aku benar-benar merasakan jatuh cinta. Maaf, sejak dulu aku tak pernah merasa mencintai kamu Arni. Aku mau ceraikan kamu!” Bibir itu berkata dingin, seolah tak sedang berbicara dengan istri yang telah mendampinginya sepuluh tahun ini. Bagaimana mungkin ia mengaku tak mencintaiku. Semuanya begitu manis. Aku tak percaya ia berkata begitu.

“Yudhis, sadarkah apa yang baru saja kamu katakan? Kamu baru saja menjatuhkan talak!”

“Memang begitulah mauku. Akhir-akhir ini aku merasa begitu hidup. Bergairah dan penuh cinta. Aku merasa bahagia dengan Meta. Kita urus perceraian secepatnya. Besok kita ke Pengadilan Agama.” Kata-katanya dingin menusuk. ”Sore nanti aku akan pindah. Sekarang aku mau numpang tidur sebentar. Di sofa di luar sini juga nggak apa-apa. Aku capek!”

“Mas, apa benar kamu sering ke tempat-tempat dugem?” aku memberanikan diri bertanya.

“Hahhhh?! Dari mana kamu tahu?” teriak Yudhis.
“Toni. Dia bilang beberapa kali lihat kamu. Sedang bersama perempuan dan minum-minum.”
“Hmmm…jadi selama ini kamu kirim sepupumu itu jadi mata-mata heh?! Betul. Si Toni nggak salah lihat. Ohhh…..pantas saja aku merasa pernah lihat dia.”
“Ngapain sih Mas kamu ke tempat-tempat seperti itu?” aku bertanya sambil menahan tangisku yang hampir saja meledak.
“Ah kamu tahu apa tentang tempat seperti itu. Aku merasa senang di sana. Dan apa pula urusanmu. Kita sudah cerai, kamu nggak berhak turut campur lagi. Ini hidupku tahu?!”
“Masya Allah Mas, istighfar Mas, istighfar…..kamu lagi lupa diri Mas! Cepatlah bertobat”
“Hhhahhhhhhh…SUDAH DIAM!!!!” bentak Yudhis kasar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang terletak di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian dengkur halusnya terdengar.

Begitu Yudhis terpejam tangisku tumpah ruah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Yudhis akan jadi seperti ini. Sang manusia sempurna bagi sebagian orang yang mengenalnya. Yudhis, yang semasa muda tak pernah mengenal tempat-tempat seperti itu. Yudhis, yang dulunya selalu membasahi bibirnya dengan berzikir. Yudhis, yang selalu menjaga wudhu, tak mau bersentuhan dengan wanita selain mahramnya. Yudhis, yang dulu lingkungannya selalu orang-orang yang baik.

Tapi sekarang…??? Ketika lingkungan berubah, ia pun berubah. Menjadi manusia yang 180 derajat berpindah ke sisi lain dunia. Siapa yang akan mengira.

Aku menangis, membenamkan wajahku ke bantal. Ghazali memelukku dari belakang. “Mama… kenapa nangis?”

“Nggak kok sayang. Nggak papa,” aku mengusap air mata yang berurai. Ya Allah, lalu bagaimana nasib Ghazali dan Sabila tanpa ayahnya. Aku tak sangup lagi berpikir.

Di atas sajadah, aku mengadu kepada Rabbku yang Maha Mendengar hambanya yang tengah kesusahan. Aku pun sadar tidak seluruhnya adalah kesalahan Yudhis, pasti aku ada mempunyai andil. Aku terlalu mencintainya, memujanya. Bahkan cintaku padanya mungkin melebihi cintaku pada Allah. Mungkin ini teguran Allah bagiku, yang sering lupa padaNya. Yang menjadikan kecintaanku pada mahluk melebihi segala-galanya.

Satu episode hidupku telah berusaha kulalui dengan tetap berada di jalanNya. Dahulu, aku memutuskan menikah dengan Yudhis berdasarkan istikharah. Pada waktu itu aku ridho dengan agamanya. Sebagaimana pesan Baginda Rasulullah SAW agar tidak menolak pinangan laki-laki yang agamanya baik. Jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi. Dengan berbagai pertimbangan itu aku menerima lamaran Yudhis. Jadi salahkah aku kalau semuanya berakhir seperti ini?

Tiada kesempurnaan bagi seorang manusia. Allahlah yang Maha Membolak-balik hati manusia. Salahkulah yang mengharapkan kesempurnaan dari Yudhis, yang menganggap ia adalah segala-galanya tak bercacat. Padahal setiap orang tak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya.

Aku masih hidup dan bernafas. Ini bukan akhir hidupku. Aku yakin Allah pasti punya rencana yang lebih baik di balik semua ujian yang diberikannya. Kekalutan dan ketakutanku perlahan sirna. Aku tak perlu khawatir dengan hidupku, hidup anak-anakku kelak. Allah-lah yang menjamin hidupku. Dia tak akan menelantarkan hambaNya.

Inilah takdir yang telah ditetapkan olehNya. Dan ini pasti yang terbaik bagi kami semua. Semoga saja Allah membukakan kembali hati Yudhis yang telah kelam dan mengembalikannya kepada kehidupan yang dulu.

Kupandangi lagi wajah tampan di seberang aku duduk saat ini. Nanti sore ia akan pergi dari rumah ini, pindah ke apartemen Meta, perempuan yang sering bersamanya di tempat dugem. Dan esoknya, kami akan ke Pengadilan Agama, mengurus perceraian.

Tangisku tetap ada, jiwaku tetap remuk redam, tapi hatiku terhibur olehNya. Satu episode hidup telah kulalui. Ketika cinta harus usai maka hidup harus terus berlanjut. Hati kecilku bertanya, kepada siapakah sebenarnya cintaku kupersembahkan? Kepada Yudhis ataukah Allah. Cinta sesungguhnya tak pernah usai. Kuusap lelehan tangisku. Episode lain telah menunggu untuk disusuri.

Alhamdulillah TAMAT.
inspired by true story

Friday, March 11, 2005

"Ketika Cinta Harus Usai"
Episode 1

Aku memandang lekat tubuh yang tengah tergolek tidur di sampingku. Tegap dan tampan, tak bercacat. Tubuh yang sangat kukenal, yang telah berada disisiku selama 10 tahun terakhir hidupku. Tubuh seorang yang sangat kuscintai, yang menjadi ayah dari anak-anakku.

Benakku menembus waktu, mengingat masa ketika kuliah dulu. Siapa yang tak pernah mendengar nama Yudhis. Mahasiswa kedokteran dari universitas negeri, ketua senat, aktivis Rohis, kader Lembaga Dakwah Kampus, dan seabrek jabatan lainnya.

Siapa pula yang tak kenal dengannya di kampus. Yudhis sering muncul di depan publik. Kepandaiannya berorasi mengagumkan. Menggugah semangat dan memukau yang mendengarnya.

Aku merasa amat mengenal Yudhis. Kami satu angkatan dan sering bekerja sama dalam banyak kegiatan dan kepanitiaan. Beberapa kali Yudhis menjadi ketua dan aku sebagai sekretaris. Sudah menjadi rahasia umum kalau Yudhis banyak penggemarnya. Fans-nya berasal dari beragam kalangan. Dari cewek gaul sampai aktivis, satu angakatn, hingga adik kelas, sefakultas maupun tidak. Yudhis punya kharisma yang luar biasa. Tutur katanya lembut dan sopan, wajahnya putih bersinar. Nilai plus yang lain adalah IP-nya tetap tingi walau aktivitasnya bejibun.

Menjalani banyak kegiatan bersama dan interaksi berfrekuensi tinggi diantara kami berdua, diam-diam menjadikan aku sebagai salah satu yang berada diantara jajaran para penggemar gelapnya. Simpati yang mulai berkembang dari benih itu kukubur ke sedalam-dalamnya hatiku. Biar ia terpendam di sana dan tak ada yang tahu.

Aku dan Yudhis, kami sama-sama tahu, tak ada kata pacaran dalam kosa kata kami. Apalagi kami berada dalam satu wadah pembinaan. Sekecil apa pun “rasa” yang sempat menyeruak, sesegera mungkin aku enyahkan.

Kadangkala sulit bagiku untuk mengendalikan gejolak hati. Berada pada masa usia yang telah cukup untuk mengenal kata “cinta”. Berada pada masa di mana di dunia yang sama masyarakat telah mafhum dengan hubungan cinta di kalangan mahasiswa.

Tidak pernah terlintas sedikitpun aku akan pacaran. Sejak kecil ayah telah menanamkan pendidikan yang keras dan benar. Memproteksi anak-anak perempuannya dari segala kemungkinan fitnah.

Tapi hati ini. Uhh…tak mungkin aku membohongi diri sendiri bahwa aku menyukai Yudhis. Yudhis perhatian padaku? Ah…masa iya? Kutepuk pipiku untuk menyadarkan diri dari keterlenaan sesaat. Ya, Yudhis memang perhatian padaku, tapi juga perhatian ke yang lainnya. Seorang pemimpin dituntut untuk perhatian kepada anak buahnya. Tidak aneh kalau dia sering menghubungiku untuk membicarakan berbagai masalah dalam kegiatan kami.

Aku berada di balik lemari sekretariat, sibuk membereskan file-file Forum Studi. Kala itu sekretariat sepi, hanya ada aku seorang. Tiba-tiba terdengar percakapan dari balik lemari. Aku tak bisa melihat siapa mereka. Mereka pun tak menyadari ada sepasang telinga yang berada di balik lemari.

“Nur, kamu tahu nggak? Kak Yudhis perhatian banget ke aku. Aku nggak terlihat di rapat sekali saja, dia langsung menelepon aku!” seru suara pertama.
“Wah…kamu beruntung banget Mel. Kak Yudhis kan cakep, pinter, kaya lagi. Lumayanlah, biar Kijang tapi keluaran terbaru loh.” Suara ke dua menimpali.
“Bagiku dia perfect banget. Kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana dia memandangku. Terus senyumnya. Manis banget bo!”
“Memang kalau aku perhatiin, Kak Yudhis ada feeling sama kamu. Tapi saingannya banyak Mel. Tau kan siapa aja yang naksir dia…Putri, Heni, Sinta. Belum lagi kakak-kakak angkatan.”
“Masa bodoh sama mereka. Yang penting Kak Yudhis suka sama aku.” Terselip nada GR dari suaranya.

Bukannya aku bermaksud menguping, tapi dialog itu tersimak dengan sendirinya. Dari suaranya aku bisa mengenali mereka. Adik tingkat, 3 angkatan di bawahku. Rasanya tak salah juga kalau ia merasa GR. Kadang Yudhis memang terlalu tebar pesona. Berulang kali kudengar para ikhwan menasehatinya tentang masalah ini. Akhirnya Yudhis menyadari bahwa kharismanya telah menyebabkan banyak hati yang jatuh bergelimpangan. Dan ia mulai membangun jarak.

Kini tubuh laki-laki yang berstatus suamiku itu bergerak. Menggeliat perlahan. Lalu tetap mendengkur halus. Kupandangi wajahnya. Hidung mancungnya menurun kepada kedua buah cinta kami, Ghazali dan Sabila. Kata banyak orang, Ghazali adalah fotocopy-an dari ayahnya.

Aku perhatikan bibir suamiku yang berwarna merah. Agak tak lazim memang seorang laki-laki berbibir merah. Masih kuingat saat bibir itu mengucap janji setia. Mitsaqan ghalizha, sebuah perjanjian yang amat tegung dalam pandangan Allah. Betapa mantap ia berucap dalam ijab kabul kami. Mengingatnya menyeruakkan rasa haru. Membuat tetes kecil bergulir di kedua pipiku.

Sore itu aku dan ayah ibuku sedang mengobrol di teras belakang sambil menyamil kue buatan ibu.

“Nduk, sekarang apa rencanamu selanjutnya?” Ayah tetap saja memanggilku dengan ‘Nduk’, panggilan terhadap anak perempuan dalam bahasa Jawa. “PTTmu sudah selesai. Kamu mau pilih kuliah lagi ambil spesialis atau mau nikah?”

Dahiku mengernyit. Nikah? “Nikah Yah? Mau nikah sama siapa? Nggak ada calon nih!”

“Masih ingat Bram, putranya Om dan Tante Rono? Dulu waktu kecil sering main sama kamu.”

Keluarga Ronodipuro, masih priyayi dan punya bisnis besar. Keluarga mereka memang bersahabat dengan keluargaku. Kuingat pula Bram kecil yang sering merebut dan merusakkan mainanku. Aku menganguk-angguk tanda ingat.

“Sekarang Bram sudah jadi Branch Manager di perusahaan papanya. Dia juga punya bisnis otomotif. Bengkel dan tempat modifikasi. Ayah kemarin ke sana. Lumayan besar, pelanggannya juga banyak sepertinya.”

“Tante Rono sering ngobrol-ngobrol sama ibu. Dia ingin mencarikan istri untuk Bram. Katanya sudah cari kemana-mana nggak ada yang cocok. Eh setelah ketemu kamu beberapa kali dan ngobrol sama kamu seperti kemarin itu, dia bilang pilihannya jatuh ke kamu Nduk.” Ibu menjelaskan sambil menuangkan the dari teko ke dalam cangkir ayah yang sudah kosong. “Tante Rono itu seneng lho sama kamu. Katanya kamu cocok jadi istri Bram.”

“Oooo…begitu,” ujarku.
“Bagaimana Nduk?” tanya ayah.
“Bagaimana apanya Yah?” tanyaku kembali.
“Kamu mau nggak?”
“Ihhhh Ayah. Nggak bisa dijawab sekarang dong! Harus dipikir-pikir, harus istikharah. Paling tidak ketemu dulu. Belum tentu Bram juga langsung mau kan Yah.”

Akhirnya tibalah saat pertemuan itu. Om Rono, Tante Rono, dan Bram datang ke rumah kami tepat pukul tujuh malam. Setelah sedikit basa-basi di ruang tamu, kami lalu berbincang di meja makan, berusaha mengakrabkan antara kedua keluarga.

Bram kini tidak terlalu banyak berbeda dengan Bram kecil. Ketampanan yang telah terlihat di masa kecil kini makin menunjukkan kesempurnaannya. Penampilannya perlente dengan pakaian dari merek terkenal. Tercium pula aroma wangi yang berasal dari tubuhnya. Alamak, gumamku dalam hati, aku saja tak pernah berparfum, kecuali jika mau sholat.

Selama perbincangan itu aku sudah merasa tidak sreg. Entah kenapa. Kalau bicara masalah fisik, Bram memang bak pemain sinetron. Tapi namanya tidak sreg, ya tidak sreg. Hal begini kan tidak bisa dipaksa-paksa.

Ditengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Om Rono bicara dengan nada keras, ”Bram memang harus punya istri seperti Arni. Supaya dia bisa belajar banyak tentang agama dan tidak lagi keluyuran ke café sampai pagi.”

Semuanya langsung terdiam. Tante Rono dan Bram memperlihatkan mimik wajah gusar mendengar kata-kata Om Rono. Aku, ayah, dan ibu juga kaget. Ibu berusaha mencairkan suasana yang jadi sedikit dingin dengan menawarkan sup asparagus kepada kami semua.

Oopss, rupanya Bram ini anak café. Nggak heran juga, terlihat dari gayanya. Sepulangnya mereka dari rumah kami, ayah mengatakan akan mencari informasi lebih jauh tentang Bram. Bagaimana kehidupan dan pergaulannya.

Om dan Tante Rono cukup sholeh. Tapi jaman sekarang orang tua tidak bisa dijadikan standar bagi kesholehan seorang anak. Anak kyai belum tentu jadi kyai. Anak perampok belum tentu perampok juga.

Aku pasrah, memohon kepada Allah diberi jodoh yang terbaik bagiku. Aku percaya karena Dia telah berjanji dalam firmannya Surah An-Nuur 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula.”

Kalau Bram bukan jodohku, pasti Allah akan tunjukkan jalannya, dan begitu pula jika sebaliknya.

Kabar itu justru datang dari Tante Rono sendiri. Bukan dari siapa-siapa yang menyebarkan gossip. Bukan pula dari Toni, sepupuku yang diberi tugas ayah untuk mencari tahu tentang Bram.

Tante Rono berkunjung ke rumah sambil bercucuran air mata lalu mencurahkan isi hatinya pada ibu. “Jeng, hancur sudah hati saya. Mau ditaruh dimana wajah dan kehormatan keluarga Ronodipuro.” Isak Tante Rono sesenggukan. “Memang Bram anaknya susah diatur. Tapi saya tak menyangka semuanya jadi begini. Rasanya kami sudah berusaha mendidiknya dengan benar.”

Ibu menenangkan sambil mengusap-usap pundak Tante Rono. “Tenanglah Mbakyu. Yang sabar. Memang ada apa tho?!” Sekonyong-konyong tangisnya malah jadi tak terbendung. Aku bangkit menyodorkan tissue kepada Tante Rono.

“Bram itu Jeng….dia…dia…dia…menghamili sekretarisnya!” Seusai keterbata-bataannya, Tante Rono melanjutkan tangisnya. “Perempuan itu menuntut untuk dinikahi. Kami tak bisa menolak.”
“Astaghfirullahaladzhim!!” ujarku dan ibu bersamaan.

Benarlah ini jawaban dari Allah. Bram bukan jodohku. Aku menatap trenyuh kepada Tante Rono. Kasihan, pasti berat sekali bebannya menerima kenyataan darah dagingnya menghamili anak orang di luar nikah. Semoga Bram benar-benar bertobat dan mau memperbaiki dirinya.

“Saya nggak enak sama Jeng, sama Arni,” kata Tante Rono setelah tangisnya mereda. “Padahal rencana sudah mau lamaran. Tadinya saya berharap sekali kita bisa besanan. Arni pasti bisa membimbing Bram untuk menjadi lebih baik.”

“Sudahlah Mbakyu. Kita tidak apa-apa kok. Keluarga kami tetap akan menjadi sahabat keluarga Mbakyu. Semoga jodoh Bram inilah yang terbaik. Mbakyu yang tabah ya!”

Batalnya perjodohan antara aku dan Bram tidak memberikan dampak apapun pada kehidupanku. Aku tetap memohon jodoh kepada Rabb-ku Yang Maha Mendengar.

Tak sampai sebulan kemudian, dengan tak disangka-sanga, datanglah serombongan keluarga ke rumahku. Mereka hanya punya satu tujuan, melamarku.


To be continued, Insya Allah.
Sudut pinggir Jakarta
Muharam 1426 H

By [:radoek:]


- keep jihad inside heart -

"Episode Cinta 1 : Sabrina"

Sabrina Nur Laily. Sabrina cahaya malam. Ah, cocok sekali namanya. Ia memang bersinar, tapi sinarnya tak menyilaukan. Aku pertama kali mengenalnya saat masa orientasi mahasiswa baru dan penataran P4. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan, lalu dibagi dalam beberapa kelompok dan regu. Aku satu regu dengannya.

Sabrina, anak dari Fakultas Teknik itu, ternyata pandai berdebat. Diskusi dalam regu lebih mirip pertarungan satu lawan satu antara aku dan dia. Yang lain berfungsi sebagai penonton. Yang berpikir-pikir akan memihak aku atau dia.

"Aku nggak setuju sama Pancasila. Memang dia itu apa? Agama? Ideologi yang benar itu Islam." Gadis yang selalu memakai rok dan jilbab lebar itu berkata penuh semangat. Aku melirik ke semua anggota regu. Untungnya kita muslim semua. Kalau tidak, wah bisa rame nih."Iya. Tapi Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Ada lima agama yang diakui negara. Pancasila berfungsi mempersatukan perbedaan-perbedaan itu. Indonesia bukan negara agama." Aku pun tak kalah bersemangat.Begitulah awal perseteruan kami. Aku si Pembela Pancasila dan Sabrina si Pejuang Islam. Sabrina pasti jenis Islam yang "begitu", pikirku. Aku tidak menemukan definisi yang tepat dengan "begitu" yang aku maksud. Masa itu jumlah jilbaber masih sedikit sekali. Jadi jilbaber identik dengan Islam yang "begitu".

"Hukum negara itu buatan manusia. Nggak mungkin adil. Hukum Allah yang paling adil. Syariat Allah harus ditegakkan." Seperti biasa, Sabrina berapi-api.Eitss, biar masih culun begini, aku sudah resmi jadi mahasiswa Fakultas Hukum. Baru tadi pagi kartu mahasiswanya dibagikan.Aku mulai terbakar."Keadilan? Di Pancasila juga ada. Nggak inget ya? Sila kelima." Aku menyindir. "Hukum itu tergantung dimana dia diletakkan. Hukum turut mengakomodasi budaya dan adat setempat. Maka itu ada hukum adat. Kalau disahkan, ia jadi hukum yang mengikat."

"Kalau begitu, hukum sifatnya relatif?" tanyanya. "Ya. Seperti di Amerika Serikat, negara federal. Setiap negara bagian mempunyai hukum sendiri-sendiri yang berbeda dengan negara bagian lain. Yang penting hukum disepakati dan disahkan." Uhh, gayaku menerangkan layaknya pengacara kondang saja.

"Kalau relatif, dimana letaknya keadilan?"

"Keadilan itu ketika setiap orang berusaha menegakkan hukum-hukum yang berlaku di wilayah tersebut." Aku menangkis pertanyaannya.

"Sumber hukumnya apa? Darimana?""Sumber hukumnya banyak. Hukum yang sudah berlaku sebelumnya, adat, norma, kebiasaan yang ada di wilayah tersebut. Kalau di Indonesia, nggak perlu ditanya. Kan baru kemarin materinya. Ada Pancasila, UUD 1945, UU, dan yang lainnya. Kamu kemarin pasti nggak nyimak deh!"

"Memang yang menciptakan Pancasila siapa?" Sabrina tetap memburu."Uh pakai nanya. Kalimat retoris. Aku nggak mau jawab!" tukasku.

"Kalau yang jadi sumber hukum saja buatan manusia, bagaimana mungkin bisa tercipta keadilan? Sumber hukum hanya Al Quran dan Sunnah." Suara Sabrina melunak. "Dari kedua sumber hukum itu, bisa ditarik berbagai macam hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Hukum masalah ibadah maupun hukum dalam hubungan antar manusia. Kalau mau diteliti lebih lanjut, ada banyak hikmah dibalik hukum-hukum Islam. Seperti qishash, potong tangan, rajam. Memang perlu waktu untuk memahaminya."

Aku diam, yang lainnya juga. Sabrina melanjutkan. "Hukum di Indonesia hanya mengakui yang sudah tertulis. Hukum Pidana secara formal adalah peninggalan Belanda. Dengan kata lain sebenarnya untuk kasus pidana tidak ada yang berdasarkan adat atau kebiasaan setempat. Sedangkan hukum Islam itu universal, berlaku untuk siapa saja. Mencakup segala segi kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Pokoknya komplit. Kesimpulannya Pancasila nggak pantas jadi sumber hukum karena buatan manusia."

Rupanya anak Teknik yang satu ini pintar berceloteh tentang hukum. Jangan-jangan Sabrina salah masuk jurusan? "Eh, nanti dulu. Pancasila itu pemersatu dari Indonesia yang heterogen. Jangan lupa kemajemukan kita," aku menukas."Iya nih Sabrina. Bagaimana dengan agama lain. Kita nggak boleh egois begitu," ujar salah satu teman seregu menimpali.

"Islam itu rahmatan lil 'alamin. Islam pemersatu dan melindungi agama-agama lain. Contoh kongkritnya ada di masa Rasulullah dan kekhalifahan Islam." Sabrina tak mau kalah.

"Ah, sudah nggak usah bawa-bawa agama deh! Sabrina tuh aliran Islam fundamentalis ya?""Nggak usah ribut-ribut. Pokoknya ditulis, dikumpul, dapet A. Beres!"
"Bener tuh! Ribut amat sama Pancasila. Gue kagak ngarti dah. Bukan urusan gue."
Serentet komentar meluncur keluar dari bibir teman-teman seregu. Dari tadi mereka bungkam, sibuk mengunyah snack yang dibagikan panitia penataran.

Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Hasil diskusi harus segera dikumpulkan. Semua sependapat denganku, kecuali Sabrina. Aku bersemangat merangkai kata hasil diskusi. Salah satu teman mencatat perkataanku. Kami tidak memperdulikan Sabrina yang duduk diam memperhatikan kami. Hahaha, aku merasa di atas angin sekarang. 1-0 pikirku. Yang banyaklah yang menang. Namanya juga demokrasi.

Sebetulnya Sabrina orangnya enak diajak bicara. Pikirannya cerdas. Kadang aku mencoba memulai percakapan ringan. Tapi sayang, kami terlanjur saling beroposisi. Layaknya Tom & Jerry. Geram sekali aku kalau melihat Sabrina tetap teguh pada pendiriannya. Padahal jelas-jelas dia kalah. Satu regu mana ada yang mendukung pendapatnya.

"Keras kepala! Egois!" desisku sambil melotot. "Akui saja kekalahanmu Sabrina.""Ini bukan soal menang atau kalah. Pijakanku kuat, landasanku kokoh. Hati-hati, justru kamu yang akan jatuh. Toh aku tidak pernah memaksakan pendapatku pada siapa pun. Kamu bebas. Mau tetap berpendapat seperti itu, itu urusanmu." Gayanya seperti orang yang acuh tak acuh. Huh sombong, pikirku.

Sehabis masa orientasi dan penataran P4, praktis aku hampir tak pernah bertemu lagi dengan Sabrina. Jarak antar fakultas di kampusku lumayan jauh. Cukup lumayan kalau berjalan kaki. Dan lagi, aku tidak punya urusan yang mengharuskanku ke gedung Fakultas Teknik.

Lima semester kemudian, aku mulai memahami apa yang pernah Sabrina ucapkan. Aku bukan lagi si Pembela Pancasila. Tapi tak cocok juga disebut Pejuang Islam. Pergaulanku mulai merambah ke mushola dan masjid kampus. Daus, temanku satu jurusan, yang menculikku dan menceburkan aku ke kehidupan bernuansa Islami. Isi otak Daus tak berbeda jauh dengan Sabrina. Jenis Islam yang "begitu". Bedanya, Daus sabar meladeni sikapku. Dia selalu saja bisa mematahkan serangan argumenku yang membara. Pemahamanku tentang Islam mulai bergerak perlahan. Merayap, merangkak, dan tertatih-tatih. Aku paham sekarang. Ternyata akulah si egois dan keras kepala itu.

Universitas akan mengadakan perhelatan akbar. Forum silaturahmi antara mahasiswa muslim seluruh Indonesia. Daus menyeret aku ke dalam kepanitiaan. Jadilah aku di seksi transportasi. Lebih tepatnya, aku jadi sopir yang siap mengantar panitia untuk mengurus segala macam urusan kesana kemari. Untuk sementara, selama aku di kampus, Audi A4 merah milikku jadi aset panitia. Kalaupun aku sedang ada jam kuliah, mobilku boleh dipakai anak lain untuk urusan penting. Tentu saja dengan pendahuluan wejangan berhati-hati plus ancaman kalau ada apa-apa dengan si Audi tersayangku.

"Sabrina," ucapku lirih melihat sosoknya. Aku baru melihatnya di rapat kali ini. Rapat yang lalu ia tak muncul. Ia bertugas sebagai koordinator seksi yang harus menghubungi universitas se Jakarta.Seusai rapat aku menyapanya.

"Sabrina, apa kabar? Masih ingat aku?"

Bibirnya membentuk lengkung indah bak pelangi terbalik. "Alhamdulillah. Kabarku baik. Bagaimana kabar si Pembela Pancasila?"Kami tertawa bersama.
"Ah, jangan begitu. Aku juga baik-baik. Aku mau minta maaf atas semua yang dulu-dulu. Aku mengaku kalah. Ternyata kamu yang benar."

"Tidak ada yang kalau atau menang. Memangnya siapa yang bikin pertandingan?""Hahaha. Ya....siapa ya? Eh...bagaimana kuliahmu?" Aku balik bertanya.

"Lancar-lancar semua. Sekarang lagi banyak tugas. Kamu?"
"Lagi getol-getolnya belajar. Aku nggak mau kalah sama anak Teknik yang ngerti Hukum. Betul nggak?" godaku."Semangat belajarnya bagus. Cuma, apa di otak kamu nggak ada persoalan lain selain menang dan kalah?"Aku tergelak tapi tak menjawab.
"Kamu panitia juga?" tanyanya. Kujawab dengan anggukan. "Kalau begitu selamat bekerja. Sukses ya!!!" katanya. Sedetik kemudian ia sudah berlari menyusul temannya.

Beberapa kali Sabrina dan timnya harus mendatangi kampus-kampus di seputar Jakarta. Posisi di bagian transportasi mengharuskanku mengantarnya. Dengan senang hati aku menjalankan tugas. Kami selalu pergi beramai-ramai. Aku mulai bisa menangkap sisi lain dari Sabrina. Orangnya lumayan kocak.

Aku menoleh dengan cepat. Ujung bola mataku menangkap sekilas sosok Sabrina. Yah, itu memang dia. Meski dari belakang setiap akhwat tampak serupa, tapi kuyakin itu ia. Lambaian ujung jilbabnya. Sosok tubuhnya. Caranya mengayunkan langkah. Aku jadi kaget sendiri. Sebegitu dalamkah Sabrina tersimpan dalam memoriku?Acara akbar itu telah usai. Aku tak pernah lagi bertemu Sabrina. Kecuali beberapa kali aku melihatnya dari kejauhan saat aku sedang sholat di masjid kampus. Seperti saat ini.

Aku terpekur diam. Sekilas tampak bagai orang sedang berzikir. Tapi tidak. Tepatnya aku sedang melamun. Bingung. Aku dilanda penayakit aneh. Satu saat aku merasakan ekstasi. Perasaan melayang yang bergelora. Kadang-kadang ada sedikit rasa nyeri di dada, lalu seperti dikerumuni semut-semut kecil, dan ada rasa nyaman yang mengalir ke seluruh tubuh. Tidak jarang pula aku senyum-senyum sendiri. Semua karena sebuah nama. Sabrina.

Ia tak bagai bidadari. Bidadari seperti apa wujudnya aku juga tidak tahu. Yang pasti ia jauh dari sosok Cindy Crafword, apalagi Pamela Anderson. Hahhh?? Ngaco pikiranku. Apa miripnya. Kalau Cindy Crafword pakai jilbab, yah....agak-agak mirip juga dengan Sabrina. Yang mirip...jilbabnya. Wah! Pikiranku makin tak karuan.Cantik? Cantik itu relatif, kata banyak orang. Jaman Renaissance, cantik identik dengan tubuh besar dan pipi tembem berisi. Masa sekarang, cantik adalah ramping bak sosok boneka Barbie. Bagiku dia cantik. Sorot matanya tajam tapi teduh, alisnya tebal, bulu matanya lentik, bibirnya merah. Belum lagi ia cerdas dan wawasannya luas. Yah, dia memang tak seperti bidadari. Tapi, urusan jatuh cinta kan tidak ada hubungannya dengan sosok bidadari. Uppsss!!! Apa kataku tadi? Jatuh cinta?!

Aku termangu-mangu dalam posisi bersila. Sebuah tepukan hangat mendarat di punggungku. "Hei jangan melamun!"Aku menoleh. Ternyata Daus. "Sudah sholat?" Aku mengangguk."Aku cari-cari kamu kemana-mana. Rupanya sekarang kamu lebih sering sholat di masjid kampus daripada di mushola fakultas."Daus memandang lekat ke mataku. "Ada apa? Ceritalah. Aku melihat sesuatu di matamu." Daus ini, firasatnya memang tajam. Selalu tahu kalau aku sedang ada yang dipikirkan.


- keep jihad inside heart -

"Episode Cinta 2 : SABRINA"

"Puyeng nih!!" kataku mendengus."Just tell me. I'll be a shoulder to cry on," Daus nyengir sambilmenepuk-nepuk pundaknya sendiri."Huuu....Kapan aku pernah nangis di pundakmu? Eh aku lapar nih! Kita makan yuk, sambil cerita. Tenang saja, kutraktir."Kali ini tujuan kami adalah restoran bakmi langgananku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus. Setelah sampai, memesan makanan dan minuman, barulah aku pada kondisi siap menumpahkan perasaanku. Daus duduk di depanku.Genggaman tangannya menopang dagunya yang ditumbuhi jenggot, dan sikunya menjadi tumpuannya. Aku hafal gayanya. Ia siap "to be a shoulder to cry on".Lalu tumpah ruahlah semuanya. Mulai saat perjumpaanku pertama kali dengan Sabrina, hingga rasa yang melandaku akhir-akhir ini.Selesai aku bercerita Daus tertawa. "Hahaha, sobatku ternyata terkena virus merah jambu."Namun, begitu tawanya selesai, Daus menatap mataku dalam-dalam. "Kamu serius sama Sabrina?""Serius?" tanyaku mengernyitkan dahi."Kamu jatuh cinta sama dia? Kamu serius?" tanyanya lagi.Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. "Jatuh cinta.....ya!Serius......mmm....apa maksudmu dengan serius?""Serius ya serius. Kalau kamu serius, sudah cepetan nikah saja!""Hahh?! Nikah? Belum pernah ada sejarah dalam keluargaku anak ingusan semester lima mau nikah," tukasku. "Kalau kasih saran yang rasional dong!""Kurang rasional apa lagi? Kalau sudah punya perasaan macam begitu, daripada macam-macam, lebih baik nikah saja. Terhindar dari zina, halal pula.""Kamu ngomong begitu 3 tahun lagi. Pasti akan langsung kulamar dia. Kalau sekarang? Nggak mungkin!"Kusulut sebatang rokok untuk meredakan kekalutanku. Daus sudah sering memperingatkanku, "Awas kalau asapnya sampai terhisap olehku. Itu namanya sudah menzholimi orang lain. Aku tuntut kamu nanti di Yaumil Akhir." Betapa seram ancaman Daus. Daripada berdebat, daripada dituntut di akhirat,biasanya aku memilih tidak merokok di hadapannya.Tapi kali ini lain. Tumben, Daus tidak melarangku merokok. "Jadi, apa maumu sekarang?" tanya Daus. Bahunya bersandar ke kursi, menjauh dari kepulan asap rokokku.Mataku menerawang. "Aku nggak tahu."Bakmi pesanan kami datang. Tapi, aku tidak lagi berselera."Memangnya tidak boleh kalau aku jatuh cinta? Apa jatuh cinta itu dosa?" ucapku setelah menyedot jus alpukat yang langsung habis."Tidak. Tapi cinta perlu dimanajemen agar tidak berubah menjadi dosa. Kita yang harus menguasai cinta. Bukan cinta yang menguasai kita.""Aku toh tidak berbuat apa-apa. Bagaimana akan jadi dosa? Gini-gini aku masih bisa membedakan mana yang dosa dan mana yang tidak." Sifat keras kepalaku mulai keluar. Daus diam, sibuk dengan bakminya.Kini aku menyulut batang ke dua. "Aku akan bilang perasaanku ke Sabrina.Berani taruhan berapa? Aku yakin dia pasti akan jadi kekasihku."Daus mendongak. "Eh, apa maksudmu? Jangan macam-macam dengan Sabrina.""Ah lihat saja," kataku mencibir. "Cepat atau lambat, Sabrina pasti aku dapatkan."Daus menarik nafas panjang. "Kamu lupa bahwa tidak ada pacaran dalam Islam?""Masih ingat. Tapi, kalaupun aku pacaran dengan Sabrina, pasti nggak akan terjadi apa-apa. Percaya deh. Memang mau ngapain sih?" kataku meyakinkan Daus.Daus lalu berceloteh tapi tak lagi kudengarkan. Ditelingaku suaranya lebih mirip nenek-nenek nyinyir yang bicara tanpa koma dan titik. Sedang pikiranku melayang-layang......kepada Sabrina.Hari-hari selanjutnya aku melancarkan aksi pedekate alias pendekatan. Aku semakin rajin sholat di masjid kampus, walau sebenarnya jaraknya tidak dekat dari fakultasku. Biasanya kutunggu sampai Sabrina and the gank selesai dari sholat. Lalu aku lewat di depan mereka, menyapa Sabrina dan mengajaknyangobrol.Suatu siang yang terik, saat aku mengemudikan mobil keluar dari kampus, aku melihat Sabrina berdiri di halte bus. Sendirian. Wah kesempatan nih, pikirku.Kulambatkan mobil dan kuturunkan jendela kiri dari panel dekat persneling. Mobilku berhenti tepat di sampingnya."Hai Sabrina, mau kemana?" sapaku nyengir."Mau pulang.""Ayo ikut aku sekalian. Aku antar deh sampai di rumah." Aku mencoba menawarkan tumpangan."Terima kasih. Tapi nggak usah repot-repot. Eh....dari jauh itu sepertinya bisku. Aku naik bis saja." Tangannya menunjuk ke arah belakang.Mataku melirik ke kaca spion yang tergantung di depan. Tak tampak bis di sana. Kubuka pintu mobil dari dalam. "Mana bisnya? Daripada panas-panas naik bis, lebih baik sama aku. Aku siap kok mengantar Sabrina kemana saja." Kukeluarkan jurus-jurus rayuanku."Nggak deh. Makasih tawaran kamu. Tapi aku nggak bisa.""Ayo masuk. Kamu kepanasan tuh!" Kulihat diatas alisnya ada butir-butir keringat mengucur. Sabrina tak bergeming."Kenapa sih kamu?" tanyaku mulai tak sabar."Maaf, aku nggak bisa.""Kenapa?""Aku nggak mau berdua saja dengan kamu di dalam mobil. Kecuali seperti dulu. Kita beramai-ramai dan pergi memang ada keperluan. Maaf. Aku naik bis saja."Ternyata dia masih saja tetap teguh kalau punya pendirian. Sabrina tidak berubah. Aku mengatupkan gerahamku. Kesabaranku habis sudah. Kubanting pintu mobil lalu kularikan Audiku dengan suara menderu. Huh! Beraninya dia menolak tawaranku. Aku mendidih.Esok harinya, di kampus, begitu bertemu Daus, langsung saja kutumpahkan kekesalanku. Kuceritakan kejadian kemarin bersama Sabrina.Daus malah nyengir sambil geleng-geleng kepala. "Kamu yang salah. Sabrina kok dirayu.""Lho?! Aku hanya menawarkan diri mengantar dia pulang. Apa salahnya?""Jelas dong. Dia nggak mau berduaan di mobil sama kamu.""Siang-siang bolong. Memangnya aku mau ngapain sama dia? Apa aku ada tampang pemerkosa?" Aku tambah kesal."Bukan begitu. Dan tidaklah perempuan dan laki-laki berduaan tanpa disertai muhrimnya, melainkan yang ke tiga adalah syetan." Daus mulai berkhotbah."Islam mengajari untuk menutup segala kemungkinan sejak awal. Sabrina pastitahu hal seperti itu. Dia menolak naik mobil berdua kamu untuk mencegah segala macam hal.""Apa sih yang harus dicegah? Apa salahku? Kamu nggak percaya sama aku?""Kalau Sabrina kemarin mau diantar, pasti kamu nggak akan berhenti sampai di situ kan?" tanya Daus."Hehehe...iya dong! Kalau dia mau, tiap hari kuantar dan kujemput juga boleh.""Hmm....dan kalau Sabrina juga mau diantar dan dijemput tiap hari?" Tanya Daus lagi."Berarti tinggal satu langkah lagi dan dia akan jadi pacarku," kataku penuh nada kemenangan."Pacar? Ngaco kamu!" Mata Daus membelalak. "Pacaran itu mendekati zina.""Aku janji deh akan menjaga Sabrina sebaik-baiknya. Aku kan sayang sama dia.""Apa kamu yakin?" Kening Daus berkerut. "Kamu yakin bisa mengatasi keinginan untuk saling berdekatan? Kamu yakin nggak ada dorongan dalam diri kamu untuk menggandeng tangannya? Kamu yakin bisa mengatasi nafsumu ketika hanyaberdua, nggak ada orang lain, sedang kamu ingin menciumnya?"Aku diam, berpikir sebentar. "Suer deh. Dia nggak akan kusentuh. Paling banter kita jalan-jalan ke mal, ngobrol-ngobrol." Aku berusaha meyakinkan Daus kalau aku pacaran dengan Sabrina pasti tidak akan ada apa-apa."Oke. Satu tahun mungkin bisa seperti itu. Tapi, tahun ke dua pacaran, tahun ke tiga? Katanya tiga tahun lagi baru mau nikah. Selama tiga tahun pacaran itu....beneran nih kamu sanggup? Yakin nih sama-sama cinta sudah tiga tahunpacaran bisa tahan cuma liat-liatan?" Daus menepuk pahaku. "Yakin nih?Ayolah, aku juga laki-laki. Jangan sok kuat iman."Aku bungkam tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya."Kalau aku sih pilih cara paling aman. Nikah, terus bebas ngapain aja sama istri. Kalau belum mampu nikah, ya puasa." Daus terkekeh.Hmmm....sekarang saja rasa kangennya pada Sabrina sudah merambat ke ubun-ubun. Kalau lihat dia tersenyum atau cemberut rasanya jadi gemas. Lalu bagaimana kalau pacaran? Benarkah aku sanggup tidak menyentuhnya samasekali? Bahkan sekadar mengandengnya saat menyeberang jalan misalnya. Aku mulai ragu pada diriku sendiri."Kupeluk ia dengan sepenuh buncahan rindu, namun terobatikah rindu setelah itu? Kukecup bibirnya demi melampiaskan tuntutan hati, namun ia justru semakin menjadi-jadi. Sepertinya kegelisahan jiwa tak bakal terobati. Selainjika dua ruh itu bersatu padu." Daus membacakan syair Ibnu Ar Rumi yang terkenal itu."Percuma kalau pacaran. Dua ruh bersatu padu itulah pernikahan. Jangan nanggung friend!" kata Daus."Masih punya niat mau pacaran?" Daus meninju bahuku, pelan. "Yakin Sabrina mau sama kamu? Ngaca dulu sana!""Tampang oke, otak encer, tongkrongan yahud begini apa yang kurang?" kataku pede."Sabrina nggak butuh cowok macem begitu. Kamu baca Al Quran tajwidnya masih belum beres. Makhrojnya juga masih belum tepat. Lancar juga enggak. Beresin dulu tuh. Makanya jangan suka males kalau diajak BBQ sama anak-anak.""Ayo deh! Kalau begitu sekarang juga aku mau belajar," ujarku bersemangat."Deuuu....segitu semangatnya," goda Daus.Berdebat dengan Daus memang percuma, karena dia memang benar. Dasar aku yang susah dinasehati. Kupikir, bodoh juga aku. Mana mungkin Sabrina mau diajakpacaran. Ah, kalau sedang dilanda cinta, akal pun sulit diajak kompromi."Heh!" Daus menepuk lenganku keras."Wadawwww!! Apaan sih bikin kaget begini?" protesku."Itu Pak Sugito udah keluar dari ruang dosen. Kita kan sekarang ada kuliahnya dia. Keasyikan ngobrol jangan sampai lupa kuliah dong!""Memang sekarang sudah jam berapa?" Aku melirik Rado di pergelangan tanganku. "Hahh iya! Udah jamnya. Cepetan lari. Nanti duluan Pak Sugito masuk kelas bisa-bisa kita nggak boleh masuk."Lalu aku dan Daus terbirit-birit lari menuju kelas.

- keep jihad inside heart -

"Episode Cinta 3 : SABRINA"

Hilang sudah keinginanku untuk memacari Sabrina. Sudah pasti ditolak! Akupun mulai paham mengapa Islam melarang sesuatu hal. Setelah dicermati, ternyata besar sekali hikmah yang tersimpan di balik dilarangnya sesuatu.Waktu makan siang biasanya aku habiskan untuk diskusi dengan Daus, tentang banyak hal. Aku juga mulai rajin ikut kajian dan BBQ (Belajar Baca Quran).Bukan sekadar ber-say hello dengan anak-anak Rohis seperti yang dulu aku lakukan.

Perasaanku kepada Sabrina, tentu masih ada. Rindu itu sering menggelitik. Terkadang sebuah senyum dan seraut wajah terlukis di dinding ruang kelas atau kamarku. Tapi, seperti kata Daus, perasaan itu harus dimanajemen. Aku tak lagi menuruti hawa nafsu mencari-cari kesempatan bertemu Sabrina.

Dari kejauhan, tampak Daus menuju ke arahku dengan berlari-lari. Saat itu aku sedang di mushola sambil mengerjakan paper. "Sabrina...!!" Nafas Daus terengah-engah.Tersentak aku, mendengar nama dia disebut. "Kenapa Sabrina?"
"Sabrina kecelakaan!!" ujar Daus dengan nafas satu-satu."Hahh?! Yang benar kamu? Di mana?"
"Di halte depan kampus. Dia terseret dan jatuh waktu mau naik bis."
Wajahku pucat, kehilangan sebagian darahnya dan kehilangan kata-kata."Ayo cepat! Kita antar ke rumah sakit."

Dengan membereskan kertas-kertas dan memasukkannya dengan terburu-buru ke dalam ranselku. Aku, Daus, dan dua orang teman lagi yang ikut mendengar berita ketika di mushola, berlari menuju Audiku. Begitu kustarter, langsung kutancap gas menuju halte.

Di halte, masih banyak orang berkerumun. Di aspal ada ceceran darah segar.Masya Allah, jeritku dalam hati. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Sabrina. Ternyata Sabrina sudah dibawa ke rumah sakit. Tanpa buangwaktu lagi, kami menyusul ke rumah sakit.

Sabrina sedang berada di ruang ICU. Kami duduk di ruang tunggu. Sahabat Sabrina terlihat sangat shock. Ia menangis sesenggukan. Di sampingnya, beberapa akhwat sedang merusaha menenangkannya.Ingin rasanya aku mendobrak pintu ruang ICU untuk dapat melihat kondisi Sabrina. Parahkan ia? Masih sadarkah ia? Namun aku tak punya kekuatan lagi.Aku hanya sanggup terduduk lemas. Daus berbisik di telingaku, "Berdoa! Terusberdoa!" Aku menurut. Mulutku komat kamit. Mengucap segala permohonan untukSabrina.

Seorang laki-laki berbaju putih keluar dari ruang ICU. "Teman kaliankekurangan banyak darah. Siapa di sini yang golongan darahnya A?" Aku mengacungkan jari, juga beberapa teman yang lain. "Kami minta kesediaannya untuk bisa menyumbangkan darahnya. Keadaannya sangat kritis. Tulang rusuk, tulang panggul, dan beberapa persendian patah. Di otaknya terjadi pendarahan."

Suara dokter itu terdengar sayup-sayup di kupingku. Pandanganku kabur. Pikiranku kalut membayangkan kondisi Sabrina."Ya Allah," bathinku menjerit. "Tolong selamatkan dia. Jangan Kau ambil nyawanya. Aku sungguh mencintainya."Oh.....Andai Sabrina tahu apa yang tersimpan di dalam hati ini. Sabrina, mengertikah kau sebesar apa cintaku padamu. Sebesar bumi yang kita pijak. Seluas alam semesta. Dan sebesar cinta itu sendiri tanpa batas.Sabrina, sadarkah kau sedalam apa sesungguhnya gejolak rasa ini. Sedalam kau gali bumi ini hingga ke belahan bumi yang lain. Sedalam hati ini. Dan sedalam kau pikir kau sanggup bayangkan.Sabrina, andai kau tahu seperti apa getaran ini menyelimutiku. Jika kau terengah, aku bersedia serahkan nafasku. Jika kau terguncang, aku rela menjadi pijakanmu. Jika kau sekarat, aku mau berikan nyawaku, jiwaku, dan sepanjang urat nadiku. Andai boleh, aku ingin berada di sampingmu. Mengalirkan kehidupan kepadamu.Baru saja aku selesai dari ruang transfusi lalu duduk di ruang tunggu.

Laki-laki berjas putih itu keluar lagi dari ruang ICU. Ia memandangi kami satu persatu. "Maaf, kami sudah berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain. Teman kalian tidak bisa diselamatkan."

Rangkaian kalimat yang diucapkan dokter itu jadi sulit kucerna maknanya. Ah....mungkin aku salah menangkap maksudnya. Sabrina tidak meninggal kan? Dokter itu tadi tidak bilang seperti itu. Lalu........kata-kata dokter itu maksudnya apa????

Begitu pecah tangis di antara para akhwat, barulah aku sadarsesadar-sadarnya. Sabrina sudah meninggal. APPPAAAAAA???!!!! SABRINA MENINGGAL????!!! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tapi tidak. Teriakan itu hanya bathinku yang mampu mendengar. Teriakan yang menyisakan gumpalan yang menyesakkan hati. Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi tak ada air mata yang keluar dari mataku. Kelopak mataku terasa panas. Tubuhku limbung. Goyah. Daus merangkulku dari samping. Erat. Dan aku terduduk tanpadaya.

- keep jihad inside heart -